Monday, August 14, 2017

Bisnis Lovebird dan Pemasaran






Mereka dapat melatih beberapa ketrampilan dari mulai: mengambil koin, main bola basket, dead trick, fly to me (FTM), sampai free flight (FF).



Sebagai burung yang mempunyai banyak  variant warna, merekapun mulai mereka diburu oleh para kolektor untuk dikembangkan atau sebagai burung beauty contest.

Jadi kita tidak perlu kuatir lagi bila ingin mengembangkan sebagai usaha ternak skala rumahan. Burung ini tidak perlu perawatan khusus, biaya pakan murah dan mudah didapat, tidak perlu tempat luas, dan dapat dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga sekalipun.



Semakin maraknya lomba lovebird baik suara maupun beauty contest saat ini, ikut pula mendongkrak peminat lovebird termasuk jenis non klep. Sesuai dengan hukum pasar yang berlaku, semakin banyak permintaan semakin membuat harga meningkat. Peminat burung jinakpun mulai menggemari lovebird non klep sebagai bahan burung jinak dan terlatih. Mereka rata-rata membeli lovebird berumur 1-4 minggu untuk dijadikan lovebird jinak, dan ini membuat banyak permintaan lovebird berumur kurang dari sebulan. Untuk harga piyikan saat ini berkisar Rp.250.000/ekor.



Untuk saat lovebird tuorquise opaline atau fallow banyak diminati oleh penggemar lovebird non klep. Kedua jenis ini masih belum banyak peternak di Indonesia dan masih terbuka peluang bisnis kedepannya sebagai lovebird pavorit. Untuk jenis tourquise opaline dibandrol harga Rp.1,500.000, sampai Rp. 2.000.000,-/ekor, sedangkan untuk fallow sendiri mencapai harga Rp. 5.000.000,-/ekor.


Sungguh harga yang pantastis untuk seekor lovebird non klep. Sedangkan untuk jenis-jenis yang lain berkisar dari Rp. 300.000,- sampai Rp. 1.500.000,-/ekor. Sebagai peluang bisnis cukup menjanjikan untuk memelihara lovebird non klep.

   

 

No comments:

Post a Comment